Tim Lingkar Pena SMKN Jateng Raih Juara 3 Tingkat Nasional pada kejuaranan NSPC 2015 di UM Malang

Siswa SMKN Jateng Raih Juara 3 tingkat Nasional dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah National Scientific Paper Competition (NSPC 2015) di Universitas Negeri Malang

 

Belum lama ini tim Lingkar Pena SMK Negeri Jawa Tengah meraih juara 3 tingkat Nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah National Scientific Papepr Competition (NSPC 2015) yang diselenggarakan oleh Forum Studi Sains dan teknologi (FS2T) BEM FMIPA Universitasn Negeri Malang. Kegiatan dengan tema “Heading to Indonesia Bright Future by Creation and Innovation of Science” itu merupakan ajang tahunan kompetisi antar pelajar SMA/SMK/MA se-Indonesia dalam perlombaan di bidang penelitian ilmiah.

Muhammad Firmansyah selaku ketua panitia menjelaskan bahwa pendaftaran peserta dilakukan sejak bulan Juni hingga September. Jumlah peserta yang mengikuti pada tahap tersebut sejumlah 144 karya siswa dari berbagai sekolah SMA/SMK/MA se-Indonesia. Dari 144 karya kemudian disaring dan dipilih 10 karya terbaik untuk mengikuti di babak Grand Final. “Pada tahap Grand Final seluruh peserta mempresentasikan karya dan menunjukkan prototype dari produk penelitiannya kepada tim penilai”, tandas Firmansyah.

Pada perlombaan tersebut siswa SMK Negeri Jawa Tengah mengirimkan 2 karya. Karya pertama dengan judul “Shrimp Shells Flavour: Inovasi Pengolahan Limbah Kulit Udang Berdaya Saing Tinggi Bagi Masyarakat Pesisir Demak” dibuat oleh Rinaldi Oktavianto, Reza Halim Kusuma, dan Johansa Prasetyo Hadi. Sementara karya kedua dengan judul “Green Painting Solution: Upaya Peningkatan Nilai Jual Batik Semarangan Berbasis Eksplorasi Warna Alam” yang dibuat oleh Reza Halim Kusuma, Renaldi Oktavianto, dan Dessy Nuriani. Keduanya lolos pada babak Grand Final yang dilaksanakan pada 9-11 Oktober 2015 di kampus Universitas Negeri Malang dan menjadi satu-satunya sekolah yang mewakili dari Provinsi Jawa Tengah.

Karya yang dibuat oleh Reza Halim Kusuma dan tim dengan judul “Green Painting Solution: Upaya Peningkatan Nilai Jual Batik Semarangan Berbasis Eksplorasi Warna Alam” mampu meraih juara 3 setelah juara 1 diperoleh oleh SMK-SMAK Bogor Jawa Barat dan juara 2 diraih oleh SMKN 2 Probolinggo Jawa Timur. Ketiganya mendapatkan tropi, piagam penghargaan, vandel dan uang pembinaan dari panitia. Selain ketiga juara tersebut, juga diberikan penghargaan bagi juara harapan 1 yang diraih oleh MAN Purwoasri Kediri dan juara favorit yang diaraih oleh MAN Lamongan.

Reza Halim Kusuma selaku ketua tim dengan judul karya “Green Painting Solution: Upaya Peningkatan Nilai Jual Batik Semarangan Berbasis Eksplorasi Warna Alam”  menjelaskan alasan melakukan penelitian tersebut dikarenakan belum adanya upaya pemanfaatan hasil alam terhadap flora untuk diguanakan sebagai bahan pewarna kain batik. “Prestasi ini merupakan hasil jerih payah yang diraih selama proses latihan. Kami selalu berlatih pada malam hari agar tidak mengganggu pelajaran di kelas. Hal ini karena kami berada di lingkungan sekolah boarding, sehingga harus pintar membagi waktu”, tutur Reza.  

Desi Tri Susilowati S.Pd., selaku guru pembimbing menambahkan selama proses latihan yang hanya 2 minggu seluruh tim berlatih setiap hari hingga larut malam. “Kami bersama tim guru dan mahasiswa PPL dari Unnes selalu mendampingi proses latihan hingga malam hari karena kami memang tidak ingin jadwal pembelajaran formal di kelas anak-anak terganggu. Meskipun latihan hingga larut malam namun semangat berlatih dari anak-anak sangat luar biasa”, jelas Desi.  

Sementara itu, Plt. Kepala SMKN Jawa Tengah, Sulistyo, MM., menambahkan pihak sekolah sangat mengapresiasi dan bangga terhadap prestasi anak-anaknya. Pasalnya mereka baru pertama kali mengikuti ajang perlombaan tersebut. “Ini adalah prestasi pertama SMKN Jawa Tengah pada tingkat nasional setelah beberapa kejuaraan kami raih di tingkat kabupaten/Kota dan Provinsi. Harapannya ini dapat menjadi motivasi bagi siswa yang lain untuk dapat berprestasi lebih baik lagi di berbagai bidang lomba dan di berbagai tingkatan, khususnya di tingkat nasional”, tandas Sulistyo.

 

oleh: heri humas@smkjateng.sch.id

Paskibraka SMKN Jateng Raih Juara Favorit di Lomba PBB USM 2015

Tim Paskibraka SMKN Jateng Raih Juara Favorit dan Juara 3 Lomba Variasi & Formasi PBB Pada Lomba Paskibraka USM 2015 Tingkat SMA/SMK/MA se-Jateng

 

Belum lama ini tim Paskibraka SMK Negeri Jawa Tengah ikuti kegiatan Perlombaan Baris-Bersaris (PBB) yang diselenggarakan oleh UKM Paskibraka Universitas Semarang (USM) Minggu, 30 Agustus 2015. Dalam kegiatan yang diselenggarakan di Gelora Prof. Sudarto SH USM tersebut, tim SMK Negeri jawa Tengah meraih medali perunggu pada cabang penilaian Lomba Variasi dan Formasi PBB (LVFPBB) dan Juara Favorit dari keseluruhan peserta yang meliputi aspek kerapian, sporter, kekompakan, kebersihan, dan partisipasi.

Menurut Sukimin SH selaku pembina UKM Paskibraka menjelaskan acara yang baru digelar pertama kali tersebut diberi nama “Gelar Aksi Paskibraka 2015”. Pesertanya adalah seluruh siswa-siswi SMA/SMK/MA se-Jawa Tengah. Adapun yang diperlombakan meliputi Lomba PBB, Lomba Variasi dan Formasi Baris Berbaris, Lomba Yel-yel, Kostum Terbaik, dan Komandan Terbaik.

Kegiatan diikuti oleh 8 sekolah se-Jawa Tengah; SMAN 1 Mranggen Demak, SMAN 1 Ngawen Blora, SMAN 2 Semarang, SMKN 1 Semarang, SMAN 5 Purwokerto Banyumas, SMA Sultan Agung Semarang, dan SMKN Jateng.

Sutarno selaku pembina tim Paskibraka SMKN Jateng menjelaskan kegiatan tersebut merupakan lomba kali pertama yang diikuti oleh tim Paskibraka SMKN Jateng. Meskipun minim pengalaman namun siswa-siswi SMKN Jateng dapat menunjukkan kemampuannya di ajang kompetisi PBB tingkat Jawa Tengah. “Kami menyadari bahwa latihan dan persiapan dari tim sangatlah kurang karena kita mengetahui lomba tersebut baru sesaat pendaftaran lomba akan ditutup”, jelas Sutarno. “Waktu latihan dan persiapan hanya dua (2) minggu sebelum pelaksanaan, namun anak-anak sudah mampu memperoleh kejuaraan”, tambah Sutarno.

Plt. Kepala SMK Negeri Jawa Tengah Sulistyo MM menambahkan kegiatan tersebut merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi siswa-siswi SMKN Jateng. Ke depan ia berharap di tahun berikutnya akan mampu meraih juara umum pada ajang perlombaan tersebut. “Tahun depan kami bersama dengan tim pembina, guru dan pamong akan berusaha lebih baik lagi untuk dapat menjadi yang terbaik”, tandas Sulistyo.

Hesti Juara Silat PSHT tingkat Jateng, Agus Juara Taekwondo tingkat Pati

Hesti Juara Silat PSHT tingkat Jateng, Agus Juara Taekwondo tingkat Pati

 

Baru-baru ini siswa-siswi SMK Negeri Jawa Tengah kembali menorehkan prestasi. Kali ini giliran siswa-siswi di kampus II Pati yang beralamat di Jl.Raya Pati-Tlogowungu Km.3 Pati. Mereka unjuk gigi pada Kejuaraan Pencak Silat Rektor Cup UNISSULA Tingkat SMA Sederajat Se-Jawa Tengah dan Kejuaraan Taekwondo Bupati Cup Pati yang diselenggarakan dalam waktu secara bersamaan di tempat berbeda. Masing-masing bertempat di Aula Gedung Fakultas Ekonomi Unissula dan di GOR Joyo Kusumo Pati.

Kegiatan Kejuaraan Pencak Silat Rektor Cup UNISSULA Tingkat SMA Sederajat Se-Jawa Tengah diikuti oleh ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kejuaraan yang digelar pada 21-23 Agustus 2015 bertempat di Aula Gedung Fakultas Ekonomi Unissula ini dihadiri oleh Rektor Unissula Dr. Anis Malik Thoha, Ketua Umum IPSI Jateng, serta Ketua Umum cabang PSHT Jawa Tengah. Hesti Cahya Prastika, siswi kelas XI TPBO meraih medali emas di kelas F Putri pada kejuaraan tersebut. Sebelumnya, Hesti juga pernah meraih medali perunggu pada Popda Pencak Silat tingkat Provinsi saat masih duduk di bangku SMP.

Bioladwiko yang akrab dipanggil Bio, selaku Panitia Penyelenggaraan Lomba mengungkapkan diadakannya acara kejuaraan ini dengan tujuan ingin memperkenalkan UNISSULA pada Sekolah SMA sederajat yang ada di Jawa Tengah. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mencetak kader-kader Pencak Silat Khaira Ummah. “ Para pemenang nantinya akan memperoleh medali, sertifikat, uang pembinaan serta piala bergilir Rektor Unissula”, ungkap Bio.

Di tempat lain, Kejuaraan Taekwondo Bupati Cup Pati digelar di GOR Joyo Kusumo Pati pada hari Sabtu, 22 Agustus 2015. Pada kejuaraan tersebut Muhammad Agus Salim siswa kelas XI TPBO meraih medali emas untuk kategori pemula putra, dan Husna Hafidzotunnissa siswi kelas XI TPHP meraih medali perak untuk kategori pemula putri. Keduanya baru sekali mengikuti kegiatan yang digelar oleh Pemkab. Pati tersebut, namun  

Sulistyo, selaku Plt. Kepala Sekolah mengungkapkan bahwa sekolah memiliki komitmen yang tinggi untuk selalu memberikan pelayanan fasilitas sekolah yang salah satunya adalah pengembangan bakat minat siswa. Hal ini menjadi dasar untuk menjadikan siswa-siswi SMKN Jateng dapat berprestasi di berbagai kejuaraan. “Kami tidak pernah membeda-bedakan antara kampus Semarang dan kampus pati. Prestasi yang telah diraih siswa-sisiwi di kampus Pati ini menjadi bukti perhatian kami terhadap seluruh siswa SMKN Jateng baik di Semarang maupun di Pati”, tegas Sulistyo.

PMR Wira SMK Negeri Jawa Tengah Raih Medali Perunggu pada Kompetisi PMR Tingkat Nasional tahun 2015

PMR Wira SMK Negeri Jawa Tengah Raih Medali Perunggu pada Kompetisi PMR Tingkat Nasional tahun 2015 di Unnes Semarang

 

Belum lama ini, tim PMR Wira SMK Negeri Jawa Tengah ikuti kegiatan “Youth Red Cross Competition 2015” yang diselenggarakan oleh KSR PMI Unit Unnes, kampus Sekaran Gunungpati Semarang. Kegiatan tersebut diikuti oleh 53 tim dari berbagai sekolah menengah atas (SMA/SMK) se-Indonesia, salah satunya adalah tim dari SMK Negeri Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut, tim PMR Wira SMK Negeri Jawa Tengah raih medali perunggu pada cabang perlombaan Pembuatan Media Pendidikan Sebaya (PRS).

Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 13-16 Agustus 2015 tersebut mendapat dukungan yang antusias dari sekolah-sekolah di Indonesia, terbukti sejumlah 53 tim dari berbagai sekolah di Indonesia ikut mendaftar dalam kegiatan tersebut. Tim PMR Wira SMK Negeri Jawa Tengah yang ditugaskan dari sekolah adalah; 1) Salma Rizkiawan (XI TKR), 2) Imam mahdi (XI TKR), 3) Ari Nur Rahman (XI TKR), dan Harini Dyah Puryadi (XI TKBB). Keempatnya tergabung dalam satu tim dengan didampingi pembina Puspita Lestiani, A.Md. Keb., dan Royan Kukuh Prasetya.

Perlombaan yang digelar antara lain adalah; Lomba karnaval arak-arakan budaya, Lomba Perawatan Keluaraga, Lomba Spech Contest, Lomba LCT PMR, Lomba Kampanye Donor Darah Pelajar, dan Lomba Pembuatan Media Pendidikan Sebaya (PRS). “Siswa Salma dan Imam Mahdi mendapat tugas untuk mengikuti perlombaan cabang Lomba Pembuatan Media Pendidikan Sebaya, dan alhamdulilah meraih medali perunggu”, ucap Puspita selaku pendamping siswa.

Ketua Penyelenggara, Dimas Setiyo Adjie menjelaskan kegiatan tersebut merupakan event rutin yang diselenggarakan oleh KSR PMI Unit Unnes. “Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, semangat dari para pelajar khususnya yang mengikuti kegiatan PMR di sekolah untuk dapat lebih semangat lagi dalam berkarya dan berbakti dalam kegiatan PMR”, tandas Dimas.

BUMN Beri Dukungan Fasilitas Kegiatan Belajar bagi Siswa SMK Negeri Jawa Tengah

BUMN Beri Dukungan Fasilitas Kegiatan Belajar bagi Siswa SMK Negeri Jawa Tengah

 

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah menginstruksikan kepada seluruh perusahaan negara (BUMN) yang beroprerasi di semua provinsi untuk menggelar program BUMN Hadir untuk Negeri. Salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah pemberian bantuan fasilitas kegiatan belajar siswa SMK di provinsi Jawa Tengah. Pada kesempatan tersebut, SMK Negeri Jawa Tengah menjadi salah satu sekolah dari jumlah total 17 sekolah SMK yang memperoleh bantuan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 17 Agustus 2015 di Hotel @Hom, Semarang.

Direktur Utama Pegadaian Riswinandi, selaku ketua panitia program BUMN Hadir untuk Negeri menjelaskan selain pemberian bantuan berupa fasilitas laboratorium untuk sekolah, BUMN juga melakukan kegiatan Bantuan penyaluran Air Bersih dan Bedah rumah Veteran 45 Unit. Pemnberian bantuan dilaksanakan secara simbolis pada upacara peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI 17 Agustus di halaman Kantor Gubernur Jateng.

“SMK Negeri Jawa Tengah merupakan salah satu sekolah yang menjadi sasaran program BUMN Hadir untuk Negeri karena di sekolah tersebut seluruh siswanya berasal dari keluaraga tidak mampu di Jawa Tengah”, ujar Riswinandi di sela-sela kegiatan pemberian hadiah tersebut. Pada kesempatan ini, SMK Negeri Jawa Tengah memperoleh 2 kuota, yakni untuk SMK Negeri Jawa Tengah kampus I yang berlokasi di Jl. Brotojoyo No.01 Semarang, dan SMK Negeri Jawa Tengah kampus II yang berlokasi di Jl.Raya Pati-Tlogowungu Km.3 Pabupaten Pati.

Plt. Kepala SMK Negeri Jawa Tengah Sulistyo menjelaskan nantinya bantuan tersebut akan diterimakan dalam wujud sarana fasilitas laboratorium seperti perangkat komputer untuk siswa. “Kami berharap dengan adanya perhatian dari pemerintah melalui perusahaan milik negara (BUMN) seperti ini, dapat meringankan masyarakat dan dapat menjadi pemicu bagi pihak lain untuk bersama-sama mebangun negeri ini”, tandas Sulistyo.

Siswa SMK Negeri Jawa Tengah Borong 7 Kejuaraan pada lomba LKS SMK tingkat Kota Semarang

Baru sekali ikut, Siswa SMK Negeri Jawa Tengah Borong 7 Kejuaraan dalam Perlombaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat Kota Semarang tahun 2015.

 

Lomba Kompetensi Siswa SMK (LKS) baru saja digelar mingu-minggu ini oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Perlombaan yang diadakan untuk menjaring prestasi siswa khususnya siswa SMK tersebut menjadi ajang yang paling bergengsi bagi siswa SMK, pasalnya dalam lomba tersebut mereka saling unjuk kemampuan dalam bidang kompetensi kejuruannya masing-masing. SMK Negeri Jawa Tengah yang pada tahun ini menjadi peserta baru dalam kompetisi tersebut, telah mampu menunjukkan prestasi dengan memborong kejuaran di berbagai bidang cabang lomba.

Kejuaran tersebut di antaranya adalah sebagai berikut; (1) Agus Pujianto dari jurusan TP, meraih juara 1 dalam cabang lomba Production Machine, (2) Robi Sasena jurusan TOI, memperoleh juara 3 dalam cabang lomba Industrial Control, (3) Wahyu Bintang Nur Hidayat dan Andhika Darussalam dari jurusan TM, memperoleh juara 3 pada cabang lomba Mekatronika, (4) Sholikhin dari jurusan TKBB, memperoleh juara 2 pada cabang lomba Wall and Floor Telling (pemasangan keramik), (5) Gunawan dari jurusan TKBB, meraih juara 2 dalam cabang lomba Auto Cad Building, (6) Tambah Sudiyono dari Jurusan TKR, memperoleh hasil juara 3 pada cabang lomba Otomotif Teknologi, dan (7) Tian Hardiana dari jurusan TP, meraih juara 2 pada cabang lomba Welding (pengelasan vertikal 3F,3G). Selain mereka tersebut di atas, masih ada 2 cabang lomba lagi yakni Plumbing dan Brick Laying yang diikuti oleh siswa SMKN Jawa Tengah, namun hingga kini pelaksanaan lombanya masih berjalan.

Agus Pujianto, siswa jurusan Teknik Pemesinan di SMK Negeri Jawa Tengah berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat Kota Semarang tahun 2015 untuk cabang lomba Production Machine. Agus berhasil meraih juara 1 setelah mampu mengalahkan 7 peserta lain se-Kota Semarang dan berhak mewakili Kota Semarang untuk mengikuti Lomba LKS tingkat Provinsi Jawa Tengah yang akan digelar pada bulan September mendatang. Event lomba tahunan tersebut digelar oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang dan dilaksanakan di berbagai tempat sekolah SMK se-Kota Semarang.

Agus merupakan salah satu siswa yang beruntung memperoleh beasiswa biaya pendidikan gratis selama 3 tahun di SMK Negeri Jawa Tengah, pasalnya ayahnya sudah meninggal dan ibunya hanya bekerja sebagai pedagang asongan (makanan gorengan) di pasar di daerah Manyaran, Semarang. Berawal dari zero menjadi hero, Agus  awal mulanya tidak masuk dalam daftar siswa yang akan di seleksi pada tingkat sekolah. Bahkan Agus awalnya hanya diterima di SMK Negeri Jawa Tengah sebagai cadangan, bukan termasuk daftar siswa yang masuk. Namun karena kegigihan dan motivasinya yang kuat, ia dapat masuk sebagai siswa di SMKN Jawa Tengah setelah mengganti siswa yang mengundurkan diri serta mampu menjadi duta SMKN jawa Tengah dalam ajang bergengsi lomba LKS SMK.

Suratman, S.Pd., selaku pembimbing lomba menambahkan bahwa alasan ia memilih Agus sebagai perwakilan sekolah adalah tidak lain karena motivasi Agus yang sangat luar biasa. “Awal mula saya memilih Agus untuk mewakili sekolah saya ditentang oleh pihak sekolah karena kompetensi siswa tersebut dinilai sangat kurang”, jelas Suratman. Atas bimbingan dan arahannya, Agus dapat menunjukkan prestasinya. “Kuncinya berada pada pendekatan personal kepada anak. Bukan perintah yang kita beri kepada anak, namun sebuah tugas yang harus dilaksanakan dengan senang serta tanpa beban”, tambahnya.  

Plt. Kepala Sekolah, Sulistyo menyatakan kebanggaan dan apresiasi yang sangat luar biasa kepada seluruh tim yang telah mempersiapkan siswa. “Meskipun mereka masih kelas XI dan lawannya adalah kelas XII, namun mereka mampu menunjukkan kehebatan dan kemampuannya. Meski juga mereka belum semuanya meraih juara 1, namun perlu diapresiasi yang sangat luar biasa, pasalnya mereka yang masih tingkat XI telah mampu bersaing dengan lawannya yang pada umumnya kelas XII”, ungkap Sulistyo saat memeberikan sambutan pada penyerahan hadiah kejuaraan siswanya.

Pembiasaan Bahasa Jawa Di Sekolah

Tidak banyak orang tahu bahwa ada yang istimewa pada tanggal 21 Februari. Hari tersebut merupakan peringatan hari bahasa ibu internasional yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1999. Alasan untuk menjadikan tanggal 21 Februari menjadi hari bahasa ibu adalah adanya keprihatinan terhadap kondisi dan keberadaan bahasa ibu yang kian hari semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Unesco menyebutkan terdapat lebih dari 6000 bahasa daerah di dunia ini, yang separuh dari jumlah tersebut terancam punah karena sudah mulai ditinggalkan oleh penutur aslinya.

Yang dimaksud bahasa ibu adalah bahasa daerah asli di mana seseorang itu tinggal. Namun, makna bahasa ibu dewasa ini seolah telah berubah. Bahasa ibu kini diartikan sebagai bahasa  yang dituturkan dan diajarkan oleh orang tua kepada anaknya sejak kecil, dengan tidak memperhatikan bahasa derah yang digunakan oleh masyarakat di sekitarnya sendiri. Hal ini membuat anak kian meninggalkan dan enggan menggunakan bahasa daerahnya. Begitu halnya dengan masyarakat di Jawa, kini anak-anak di daerah Jawa mulai meninggalkan bahasa daerah.

Bahasa Jawa telah dijadikan muatan lokal dalam pelajaran sekolah di provinsi Jawa Tengah. Dengan adanya SK Gubernur No 423.5/5/2010, kian mengukuhkan keberadaan mulok bahasa Jawa untuk diajarkan di sekolah. Nah,sekarang bagaimana peranan guru bahasa Jawa dalam upaya pelestarian bahasa daerah?

Guru bahasa Jawa di sekolah menjadi salah satu kunci untuk keberlangsungan penggunaan bahasa daerah di sekolah. Guru bahasa Jawa alangkah lebih baik jika tidak hanya menjadikan profesi guru bahasa Jawa sebagai sebuah pekerjaan. Lebih dari pada itu, guru bahasa Jawa diharapkan dapat menjadi pelaku, penggerak, serta pemotivator dalam membiasakan bahasa Jawa di sekolah. Dengan demikian, bahasa Jawa di sekolah tidak hanya digunakan pada saat jam pembelajaran bahasa Jawa tersebut berlangsung, namun juga pada waktu-waktu tertentu dalam kondisi formal maupun non formal.

Kondisi demikian juga dikuatkan dengan adanya Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 430/9525 tertanggal 7 Oktober 2014 tentang Penggunaan Bahasa Jawa untuk Komunikasi Lisan pada tiap hari Kamis. Hal ini perlu disikapi untuk dapat dilaksanakan pada tiap hari Kamis, seluruh aktivitas di sekolah menggunakan bahasa komunikasi lisan bahasa Jawa, baik bagi guru maupun siswa. Hal ini yang selama ini belum teroptimalkan di lingkungan sekolah.

Kegiatan pembiasaan menggunakan bahasa Jawa di sekolah dapat dilakukan dalam bentuk bahasa lisan pengantar pembelajaran di kelas. Misalnya, pada saat siswa laporan sebelum pembelajaran dimulai. Siswa lapor dengan menggunakan bahasa Jawa, begitu pula bagi guru pada saat memberikan pengantar materi dengan menggunakan bahasa Jawa.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru bahasa Jawa di sekolah. Pertama, guru mengajak anak untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Jawa ragam krama dalam berbagai aktivitas non formal di sekolahan. Misalnya pada saat di kantin, pada saat jam istirahat, saat bertemu dengan orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Tentunya hal ini diawali dari guru bahasa Jawa itu sendiri. Guru dapat membiasakan berbahasa Jawa ragam krama kepada siswa dengan memperhatikan unggah ungguh basa misalnya, “Prayoganipun siswa sampun dugi ing sekolahan saderengipun Bapak/Ibu guru rawuh. Dalam contoh kalimat tersebut, guru harus dapat membedakan penggunaan bahasa yang tepat untuk siswa dan untuk guru. Dengan membiasakan diri berbahasa Jawa kepada siswa, harapannya siswa akan terbiasa dan akan sungkan apabila tidak membalas pembicaraan tersebut dengan bahasa Jawa ragam krama.

Kedua, guru dapat memberikan penugasan terstruktur kepada siswa terkait peningkatan kemampuan berbahasa Jawa. Tugas tersebut dapat berupa pembuatan kamus pribadi tentang undha-usuk basa yang ditulis oleh siswa. Dengan menulis sendiri tentang undha-usuk basa, siswa akan mengetahui dan lebih memahami manakala ia harus menggunakan kata “maem” untuk dirinya sendiri dan kata “dhahar” untuk orang lain yang lebih tua. Selain itu, pengetahuan kosa kata tentang bahasa Jawa anak juga akan bertambah. Hal ini bisa dibiasakan dalam seminggu sekali siswa diminta menulis dan menghafal minimal 10 sampai 20 kosa kata.

Tugas terstruktur lain yang dapat dilakukan oleh guru bahasa Jawa adalah penugasan membuat kalimat berbahasa Jawa ragam krama. Tiap minggu, siswa diminta untuk membuat kalimat berbahasa Jawa ragam krama terkait kegiatan mereka sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa untuk siswa. Penugasan tersebut memang membutuhkan proses yang lama dan mengharuskan guru mengoreksi setiap pekerjaan siswa. Namun justru dengan demikian, guru akan dapat membenarkan langsung terhadap masing-masing siswa apabila terjadi kesalahan dalam penggunaan bahasa.

Ketiga, guru dapat mengajarkan sopan santun kepada siswa dalam setiap kegiatan siswa. Salah satu upaya untuk membiasakan kesopanan tersebut adalah pada saat memanggil orang lain. Guru mengajak siswa untuk membiasakan diri memanggil orang lain dengan bahasa yang santun, yakni dengan kata “Mas”, “Mbak”, “Kenang, “Kenok”, dan lain sebagainya. Dengan demikian, suasana yang terbangun adalah suasana nyaman dan jauh dari berbagai permasalahan.

Beberapa cara di atas sebenarnya hanya sedikit dari apa yang dapat dilakukan oleh seorang guru khususnya guru bahasa Jawa dalam rangka upaya pelestarian bahasa daerah. Guru bahasa Jawa sangat diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pemertahanan dan pelestarian bahasa Jawa. Bersamaan dengan peringatan hari bahasa ibu se dunia ini, mari bersama-sama kita lestarikan bahasa Jawa agar tidak kian ditinggalkan oleh generasi muda dewasa ini.