BUMN Beri Dukungan Fasilitas Kegiatan Belajar bagi Siswa SMK Negeri Jawa Tengah

BUMN Beri Dukungan Fasilitas Kegiatan Belajar bagi Siswa SMK Negeri Jawa Tengah

 

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah menginstruksikan kepada seluruh perusahaan negara (BUMN) yang beroprerasi di semua provinsi untuk menggelar program BUMN Hadir untuk Negeri. Salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan adalah pemberian bantuan fasilitas kegiatan belajar siswa SMK di provinsi Jawa Tengah. Pada kesempatan tersebut, SMK Negeri Jawa Tengah menjadi salah satu sekolah dari jumlah total 17 sekolah SMK yang memperoleh bantuan. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 17 Agustus 2015 di Hotel @Hom, Semarang.

Direktur Utama Pegadaian Riswinandi, selaku ketua panitia program BUMN Hadir untuk Negeri menjelaskan selain pemberian bantuan berupa fasilitas laboratorium untuk sekolah, BUMN juga melakukan kegiatan Bantuan penyaluran Air Bersih dan Bedah rumah Veteran 45 Unit. Pemnberian bantuan dilaksanakan secara simbolis pada upacara peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI 17 Agustus di halaman Kantor Gubernur Jateng.

“SMK Negeri Jawa Tengah merupakan salah satu sekolah yang menjadi sasaran program BUMN Hadir untuk Negeri karena di sekolah tersebut seluruh siswanya berasal dari keluaraga tidak mampu di Jawa Tengah”, ujar Riswinandi di sela-sela kegiatan pemberian hadiah tersebut. Pada kesempatan ini, SMK Negeri Jawa Tengah memperoleh 2 kuota, yakni untuk SMK Negeri Jawa Tengah kampus I yang berlokasi di Jl. Brotojoyo No.01 Semarang, dan SMK Negeri Jawa Tengah kampus II yang berlokasi di Jl.Raya Pati-Tlogowungu Km.3 Pabupaten Pati.

Plt. Kepala SMK Negeri Jawa Tengah Sulistyo menjelaskan nantinya bantuan tersebut akan diterimakan dalam wujud sarana fasilitas laboratorium seperti perangkat komputer untuk siswa. “Kami berharap dengan adanya perhatian dari pemerintah melalui perusahaan milik negara (BUMN) seperti ini, dapat meringankan masyarakat dan dapat menjadi pemicu bagi pihak lain untuk bersama-sama mebangun negeri ini”, tandas Sulistyo.

Siswa SMK Negeri Jawa Tengah Borong 7 Kejuaraan pada lomba LKS SMK tingkat Kota Semarang

Baru sekali ikut, Siswa SMK Negeri Jawa Tengah Borong 7 Kejuaraan dalam Perlombaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat Kota Semarang tahun 2015.

 

Lomba Kompetensi Siswa SMK (LKS) baru saja digelar mingu-minggu ini oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Perlombaan yang diadakan untuk menjaring prestasi siswa khususnya siswa SMK tersebut menjadi ajang yang paling bergengsi bagi siswa SMK, pasalnya dalam lomba tersebut mereka saling unjuk kemampuan dalam bidang kompetensi kejuruannya masing-masing. SMK Negeri Jawa Tengah yang pada tahun ini menjadi peserta baru dalam kompetisi tersebut, telah mampu menunjukkan prestasi dengan memborong kejuaran di berbagai bidang cabang lomba.

Kejuaran tersebut di antaranya adalah sebagai berikut; (1) Agus Pujianto dari jurusan TP, meraih juara 1 dalam cabang lomba Production Machine, (2) Robi Sasena jurusan TOI, memperoleh juara 3 dalam cabang lomba Industrial Control, (3) Wahyu Bintang Nur Hidayat dan Andhika Darussalam dari jurusan TM, memperoleh juara 3 pada cabang lomba Mekatronika, (4) Sholikhin dari jurusan TKBB, memperoleh juara 2 pada cabang lomba Wall and Floor Telling (pemasangan keramik), (5) Gunawan dari jurusan TKBB, meraih juara 2 dalam cabang lomba Auto Cad Building, (6) Tambah Sudiyono dari Jurusan TKR, memperoleh hasil juara 3 pada cabang lomba Otomotif Teknologi, dan (7) Tian Hardiana dari jurusan TP, meraih juara 2 pada cabang lomba Welding (pengelasan vertikal 3F,3G). Selain mereka tersebut di atas, masih ada 2 cabang lomba lagi yakni Plumbing dan Brick Laying yang diikuti oleh siswa SMKN Jawa Tengah, namun hingga kini pelaksanaan lombanya masih berjalan.

Agus Pujianto, siswa jurusan Teknik Pemesinan di SMK Negeri Jawa Tengah berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat Kota Semarang tahun 2015 untuk cabang lomba Production Machine. Agus berhasil meraih juara 1 setelah mampu mengalahkan 7 peserta lain se-Kota Semarang dan berhak mewakili Kota Semarang untuk mengikuti Lomba LKS tingkat Provinsi Jawa Tengah yang akan digelar pada bulan September mendatang. Event lomba tahunan tersebut digelar oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang dan dilaksanakan di berbagai tempat sekolah SMK se-Kota Semarang.

Agus merupakan salah satu siswa yang beruntung memperoleh beasiswa biaya pendidikan gratis selama 3 tahun di SMK Negeri Jawa Tengah, pasalnya ayahnya sudah meninggal dan ibunya hanya bekerja sebagai pedagang asongan (makanan gorengan) di pasar di daerah Manyaran, Semarang. Berawal dari zero menjadi hero, Agus  awal mulanya tidak masuk dalam daftar siswa yang akan di seleksi pada tingkat sekolah. Bahkan Agus awalnya hanya diterima di SMK Negeri Jawa Tengah sebagai cadangan, bukan termasuk daftar siswa yang masuk. Namun karena kegigihan dan motivasinya yang kuat, ia dapat masuk sebagai siswa di SMKN Jawa Tengah setelah mengganti siswa yang mengundurkan diri serta mampu menjadi duta SMKN jawa Tengah dalam ajang bergengsi lomba LKS SMK.

Suratman, S.Pd., selaku pembimbing lomba menambahkan bahwa alasan ia memilih Agus sebagai perwakilan sekolah adalah tidak lain karena motivasi Agus yang sangat luar biasa. “Awal mula saya memilih Agus untuk mewakili sekolah saya ditentang oleh pihak sekolah karena kompetensi siswa tersebut dinilai sangat kurang”, jelas Suratman. Atas bimbingan dan arahannya, Agus dapat menunjukkan prestasinya. “Kuncinya berada pada pendekatan personal kepada anak. Bukan perintah yang kita beri kepada anak, namun sebuah tugas yang harus dilaksanakan dengan senang serta tanpa beban”, tambahnya.  

Plt. Kepala Sekolah, Sulistyo menyatakan kebanggaan dan apresiasi yang sangat luar biasa kepada seluruh tim yang telah mempersiapkan siswa. “Meskipun mereka masih kelas XI dan lawannya adalah kelas XII, namun mereka mampu menunjukkan kehebatan dan kemampuannya. Meski juga mereka belum semuanya meraih juara 1, namun perlu diapresiasi yang sangat luar biasa, pasalnya mereka yang masih tingkat XI telah mampu bersaing dengan lawannya yang pada umumnya kelas XII”, ungkap Sulistyo saat memeberikan sambutan pada penyerahan hadiah kejuaraan siswanya.

Pembiasaan Bahasa Jawa Di Sekolah

Tidak banyak orang tahu bahwa ada yang istimewa pada tanggal 21 Februari. Hari tersebut merupakan peringatan hari bahasa ibu internasional yang ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1999. Alasan untuk menjadikan tanggal 21 Februari menjadi hari bahasa ibu adalah adanya keprihatinan terhadap kondisi dan keberadaan bahasa ibu yang kian hari semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Unesco menyebutkan terdapat lebih dari 6000 bahasa daerah di dunia ini, yang separuh dari jumlah tersebut terancam punah karena sudah mulai ditinggalkan oleh penutur aslinya.

Yang dimaksud bahasa ibu adalah bahasa daerah asli di mana seseorang itu tinggal. Namun, makna bahasa ibu dewasa ini seolah telah berubah. Bahasa ibu kini diartikan sebagai bahasa  yang dituturkan dan diajarkan oleh orang tua kepada anaknya sejak kecil, dengan tidak memperhatikan bahasa derah yang digunakan oleh masyarakat di sekitarnya sendiri. Hal ini membuat anak kian meninggalkan dan enggan menggunakan bahasa daerahnya. Begitu halnya dengan masyarakat di Jawa, kini anak-anak di daerah Jawa mulai meninggalkan bahasa daerah.

Bahasa Jawa telah dijadikan muatan lokal dalam pelajaran sekolah di provinsi Jawa Tengah. Dengan adanya SK Gubernur No 423.5/5/2010, kian mengukuhkan keberadaan mulok bahasa Jawa untuk diajarkan di sekolah. Nah,sekarang bagaimana peranan guru bahasa Jawa dalam upaya pelestarian bahasa daerah?

Guru bahasa Jawa di sekolah menjadi salah satu kunci untuk keberlangsungan penggunaan bahasa daerah di sekolah. Guru bahasa Jawa alangkah lebih baik jika tidak hanya menjadikan profesi guru bahasa Jawa sebagai sebuah pekerjaan. Lebih dari pada itu, guru bahasa Jawa diharapkan dapat menjadi pelaku, penggerak, serta pemotivator dalam membiasakan bahasa Jawa di sekolah. Dengan demikian, bahasa Jawa di sekolah tidak hanya digunakan pada saat jam pembelajaran bahasa Jawa tersebut berlangsung, namun juga pada waktu-waktu tertentu dalam kondisi formal maupun non formal.

Kondisi demikian juga dikuatkan dengan adanya Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 430/9525 tertanggal 7 Oktober 2014 tentang Penggunaan Bahasa Jawa untuk Komunikasi Lisan pada tiap hari Kamis. Hal ini perlu disikapi untuk dapat dilaksanakan pada tiap hari Kamis, seluruh aktivitas di sekolah menggunakan bahasa komunikasi lisan bahasa Jawa, baik bagi guru maupun siswa. Hal ini yang selama ini belum teroptimalkan di lingkungan sekolah.

Kegiatan pembiasaan menggunakan bahasa Jawa di sekolah dapat dilakukan dalam bentuk bahasa lisan pengantar pembelajaran di kelas. Misalnya, pada saat siswa laporan sebelum pembelajaran dimulai. Siswa lapor dengan menggunakan bahasa Jawa, begitu pula bagi guru pada saat memberikan pengantar materi dengan menggunakan bahasa Jawa.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru bahasa Jawa di sekolah. Pertama, guru mengajak anak untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Jawa ragam krama dalam berbagai aktivitas non formal di sekolahan. Misalnya pada saat di kantin, pada saat jam istirahat, saat bertemu dengan orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Tentunya hal ini diawali dari guru bahasa Jawa itu sendiri. Guru dapat membiasakan berbahasa Jawa ragam krama kepada siswa dengan memperhatikan unggah ungguh basa misalnya, “Prayoganipun siswa sampun dugi ing sekolahan saderengipun Bapak/Ibu guru rawuh. Dalam contoh kalimat tersebut, guru harus dapat membedakan penggunaan bahasa yang tepat untuk siswa dan untuk guru. Dengan membiasakan diri berbahasa Jawa kepada siswa, harapannya siswa akan terbiasa dan akan sungkan apabila tidak membalas pembicaraan tersebut dengan bahasa Jawa ragam krama.

Kedua, guru dapat memberikan penugasan terstruktur kepada siswa terkait peningkatan kemampuan berbahasa Jawa. Tugas tersebut dapat berupa pembuatan kamus pribadi tentang undha-usuk basa yang ditulis oleh siswa. Dengan menulis sendiri tentang undha-usuk basa, siswa akan mengetahui dan lebih memahami manakala ia harus menggunakan kata “maem” untuk dirinya sendiri dan kata “dhahar” untuk orang lain yang lebih tua. Selain itu, pengetahuan kosa kata tentang bahasa Jawa anak juga akan bertambah. Hal ini bisa dibiasakan dalam seminggu sekali siswa diminta menulis dan menghafal minimal 10 sampai 20 kosa kata.

Tugas terstruktur lain yang dapat dilakukan oleh guru bahasa Jawa adalah penugasan membuat kalimat berbahasa Jawa ragam krama. Tiap minggu, siswa diminta untuk membuat kalimat berbahasa Jawa ragam krama terkait kegiatan mereka sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa untuk siswa. Penugasan tersebut memang membutuhkan proses yang lama dan mengharuskan guru mengoreksi setiap pekerjaan siswa. Namun justru dengan demikian, guru akan dapat membenarkan langsung terhadap masing-masing siswa apabila terjadi kesalahan dalam penggunaan bahasa.

Ketiga, guru dapat mengajarkan sopan santun kepada siswa dalam setiap kegiatan siswa. Salah satu upaya untuk membiasakan kesopanan tersebut adalah pada saat memanggil orang lain. Guru mengajak siswa untuk membiasakan diri memanggil orang lain dengan bahasa yang santun, yakni dengan kata “Mas”, “Mbak”, “Kenang, “Kenok”, dan lain sebagainya. Dengan demikian, suasana yang terbangun adalah suasana nyaman dan jauh dari berbagai permasalahan.

Beberapa cara di atas sebenarnya hanya sedikit dari apa yang dapat dilakukan oleh seorang guru khususnya guru bahasa Jawa dalam rangka upaya pelestarian bahasa daerah. Guru bahasa Jawa sangat diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya pemertahanan dan pelestarian bahasa Jawa. Bersamaan dengan peringatan hari bahasa ibu se dunia ini, mari bersama-sama kita lestarikan bahasa Jawa agar tidak kian ditinggalkan oleh generasi muda dewasa ini.